Tahun 2020 telah terlewati. Tahun penuh tantangan karena pandemi. Lembar baru di 2021 telah terbuka kini. Aksi selamatkan Bumi tak boleh berhenti. Coca-Cola siap terus berkontribusi.

Kita semua, di seluruh dunia, telah melalui tahun penuh tantangan pada 2020. Pandemi virus corona telah mengubah banyak hal. Situasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tapi, tak boleh putus asa. Tahun 2021 harus disambut dengan penuh semangat untuk lebih baik, penuh optimisme, keinginan untuk terus bertumbuh, dan lebih kuat. Dengan segala tantangan yang dihadapi, kontribusi bagi penyelamatan Bumi harus terus berjalan. Demikian pula Coca-Cola Indonesia yang berkomitmen melanjutkan upaya mewujudkan visi “World without Waste”

Public Affairs and Communication Sustainability Director PT Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo berbagi cerita soal capaian pada 2020, dan rencana pada 2021. Apa saja yang akan dilakukan PT Coca-Cola Indonesia untuk berkontribusi menyelamatkan Bumi melalui pengurangan limbah plastik?

Capaian Coca-Cola Indonesia di 2020

Tahun ini, upaya yang dilakukan Coca-Cola Indonesia tak terlepas dari visi global yang diluncurkan pada 2018 yaitu “World without Waste”. Melalui visi ini, ada sejumlah goal yang ingin dicapai Coca-Cola. Pertama, mengumpulkan dan mendaur ulang botol atau kaleng untuk setiap botol yang dijual pada tahun 2030. Hal ini dilakukan karena Coca-Cola melihat persoalan limbah plastik menjadi salah satu persoalan lingkungan terbesar di semua negara. Untuk menjadi bagian dari solusi persoalan ini, Coca-Cola juga menetapkan target menjadikan kemasan yang digunakan 100 persen didaur ulang pada 2025. Sementara, pada 2030, Coca-Cola menargetkan 50 persen bahan daur ulang untuk setiap botol atau kaleng yang digunakan.

Ada tiga pilar dari World without Waste yaitu collab, design, dan partner.

Lalu, apa saja yang sudah dilakukan sepanjang 2020? Triyono memaparkan, sejumlah terobosan sudah dilakukan. Salah satunya menggandeng startup di tiga wilayah, yaitu Bali, Makassar, dan Gowa, untuk bekerja sama melalui Plastic Reborn 2.0. Tiga startup di tiga wilayah itu diajak untuk terlibat membangun bisnis berbasis teknologi yang fokus pada pengelolaan sampah, terutama sampah yang bisa didaur ulang. Menurut Triyono, pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan terbesar di Indonesia. Hasilnya sangat baik. Ketiga startup itu berhasil meningkatkan jumlah sampah yang mereka kelola hingga naik sekitar 400 persen jika dibandingkan sebelum terlibat dalam Plastic Reborn 2.0. Langkah ini merupakan implementasi dari pilar collab dalam World without Waste.

Untuk pilar design, Coca-Cola melakukan review terhadap kemasan yang digunakan.

“Desain bagaimana, bahan baku, model bisnisnya seperti apa. Bagaimana kami menggunakan rPET (recycle PET) dalam botol-botol kami. Tapi untuk mencapai itu, Indonesia masih perlu langkah cukup panjang karena industri plastik daur ulang di Indonesia belum banyak yang bisa memproduksi plastik daur ulang PET yang food grade, bisa digunakan untuk kualitas bahan pangan. Umumnya yang terjadi, botol diolah, dicacah, kemudian cacahan dijual ke pabrik tekstil/fiber jadi polyester atau rayon, atau diekspor. Umumnya masih bukan menjadi bahan baku untuk produk pangan, perlu proses lagi. Proses ini masih cukup panjang,” papar Triyono.

Upaya lain yang dilakukan dari sisi desain adalah mempermudah recycling. Coca-Cola juga mulai memperkenalkan light weighting dan botol transparan.

Apa itu light weighting? Fungsinya untuk mengurangi pemakaian plastik dalam kemasan karena dari sisi gramasi sangat kecil. Upaya ini sebenarnya sudah dilakukan dalam 8 tahun terakhir, dan efektif mengurangi penggunaan 10.000 ton plastik.

Sementara, untuk transparent bottle, di beberapa produk yang tadinya menggunakan botol berwarna, kini diganti dengan botol transparan. Ini bagian dari upaya meningkatkan nilai dari botol plastik. Menurut Triyono, untuk pemulung, harga botol transparan lebih tinggi dibandingkan botol berwarna.

Bagaimana dengan pilar partnership? Triyono menjelaskan, upaya ini dilakukan dengan menyoroti persoalan pengelolaan sampah di Indonesia yang lebih dari 61 persen sampah plastiknya belum dikelola dengan baik. Oleh karena itu, dilakukan terobosan bersama perusahaan-perusahaan dengan mendorong terbentuknya Packaging Recovery Organization (PRO). Pembentukan PRO merupakan langkah besar yang dilakukan pada 2020.

PRO akan jadi “success story”

Sebagai terobosan besar yang dimulai pada 2020, PRO akan lebih dioptimalkan pada 2021 ini. PRO merupakan organisasi nirlaba yang tujuannya bekerja sama dengan pelaku industri daur ulang dan pelaku pengumpulan sampah yang sudah ada untuk meningkatkan sampah plastik kemasan yang bisa didaur ulang.

PRO didirikan oleh Coca-Cola Indonesia, Indofood Sukses Makmur, Nestlé Indonesia, Tetra Pak Indonesia, Tirta Investama, Yayasan Unilever Indonesia, dan Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE).

Ada tiga aktivitas PRO. Pertama, kategori A. Caranya, dengan membangun sistem insentif yang harapannya bisa memberikan dukungan biaya transportasi, terutama di daerah-daerah tertentu yang sampahnya tidak terkelola dengan baik. Langkah ini diharapkan bisa mendorong pengumpulan sampah daur ulang dan tidak ada kendala biaya transportasi. Kerja sama dilakukan dengan industri daur ulang agar mengumpulkan sampah plasti dari daerah yang collection rate-nya rendah atau belum banyak pengumpulannya. Selama ini, persoalan biaya kirim menjadi masalah tersendiri dalam pengumpulan sampah plastik. Saat ini, kegiatan kategori A difokuskan untuk kemasan polyethylene terephthalate (PET) yang tujuannya membangun Pasar Daur Ulang atau Hasil Akhir. 

Kedua, kategori B untuk kegiatan yang sifatnya membangun kapasitas dari pelaku usaha pengumpulan sampah misalnya bank sampah, TPST, TPS3R, atau pengepul. Mereka selama ini menjadi ujung tombak pengumpulan sampah kemasan yang bisa didaur ulang. Upaya yang dilakukan adalah membantu mereka mengelola usahanya dengan lebih baik sehingga volume dari sisi pengumpulan sampah lebih tinggi. Selain itu, kualitas menjadi lebih baik, disortir, dan lebih bersih.

“Kalau sampah kemasan lebih bersih, lebih tinggi harga jualnya, dan lebih mudah didaur ulang,” ujar Triyono.

Lalu, ketiga, kategori C, dilakukan dengan mengedukasi masyarakat.

Pada 2021 ini, diharapkan PRO sudah memulai pilot project di dua area Bali/Lombok dan Jawa Timur. Pemilihan daerah ini dengan berbagai pertimbangan. Misalnya, Bali/Lombok diketahui belum ada industri daur ulang. Di daerah itu umumnya yang ada pengepul atau pengepul besar.

“Jadi pengumpulan sampah plastiknya baru sebatas mengumpulkan, cacah, kemudian dikirimkan ke daerah-daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, atau pabrik-pabrik yang gunakan cacahan. Tidak langsung dikelola di sana,” kata Triyono.

Sementara di Jawa Timur, PRO akan bekerja sama dengan pelaku industri yaitu pabrik yang punya industri daur ulang agar mendorong industri/pengepul prioritaskan pengumpulan. Berbagai upaya kerja sama ini dilakukan karena Coca-Cola ingin mendorong PRO menjadi salah satu kisah sukses atau success story. Apalagi, pembentukan PRO ini merupakan yang pertama di Indonesia.

“Kami berharap  PRO jadi salah satu metode unggulan untuk mengelola sampah kemasan di Indonesia” kata Triyono.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, Coca Coma bersama dua yayasan yang bergerak di bidang lingkungan dan kemanusiaa, Greenation Foundation dan BenihBaik.com, juga membantu ribuan pemulung dan petugas persampahan di seluruh Indonesia.

Pemulung dan petugas persampahan merupakan kelompok masyarakat yang rentan terpapar Covid-19 karena pekerjaannya yang berhubungan dengan lingkungan luar. Bantuan yang disalurkan kepada 6.290 pemulung dan petugas persampahan itu berupa Alat Pelindung Diri (APD), hygiene kit, sera modul edukasi Covid-19.

Donasi sebesar Rp 1.4 miliar juga diberikan Coca Cola kepada BenihBaik.com, yang kemudian didistribusikan dalam bentuk sembako dan perlengkapan kesehatan kepada 3.790 orang pemulung yang tersebar di Bekasi, Jakarta Utara, Tangerang, dan berbagai daerah lainnya.