Nama Sungai Citarum mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini memang dikenal sebagai sungai purba yang berperan penting dalam peradaban manusia sejak zaman Kerajaan Tarumanegara. Sampai hari ini, Sungai Citarum dikenal sebagai sungai strategis nasional. Jika kamu tinggal di Bandung atau di Jakarta, boleh jadi air minum yang kamu konsumsi berasal dari bahan baku air Sungai Citarum. 

Dengan luas 682.000 hektar dan melintasi 13 kota dan kabupaten, Sungai Citarum memang  memberikan jasa yang besar terhadap lingkungan. Sungai ini menghidupi 25 juta penduduk, di mana 15 juta penduduk di antaranya tinggal di sekitar sungai. Tak hanya itu, sungai ini juga telah menjadi sumber air irigasi bagi 4 juta hektar lahan pertanian serta menjadi sumber daya pembangkit listrik. 

Sayangnya, sejak tahun 2007 silam, sungai yang telah mendukung kehidupan banyak orang  ini tercatat sebagai salah satu sungai yang paling tercemar di dunia. Ada berbagai masalah  lingkungan hidup yang dihadapi Sungai Citarum, mulai dari pencemaran air, lahan yang  terkontaminasi, hingga akhirnya polusi udara yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. 

Melihat pentingnya keberadaan Sungai Citarum bagi masyarakat, maka sudah saatnya  seluruh pihak mengambil peran mengatasi permasalahan sampah yang ada di daerah aliran  sungai (DAS) Citarum. Semangat inilah yang diangkat oleh Greeneration Foundation dan PT  Coca-Cola Indonesia dalam Citarum Repair Webinar Series Kedua: “Apa yang Bisa Kita  Lakukan untuk Sungai Citarum? Kolaborasi Menuju Citarum Bersih” yang digelar pada  Kamis, 5 November 2020 silam. 

Perlu dukungan semua pihak untuk membuat Citarum bersih 

Permasalahan sampah memang tidak terlepas dari tanggung jawab setiap orang. Maklum,  tiap orang menghasilkan 2,5 liter sampah per hari. Di Indonesia sendiri, jumlah sampah tiap  desa mencapai 10 ton hingga 15 ton per hari. Ini menjadikan Indonesia sebagai peringkat  kedua penyumbang sampah ke laut terbesar di dunia. 

“Pengelolaan sampah walaupun domain pelayanan publik, tetapi tidak lepas dari tanggung  jawab masyarakat dan pelaku bisnis,” ujar Didi Adji Siddik, Kepala Bidang Kedaruratan dan  Logistik Jawa Barat, dalam webinar tersebut. 

Pemerintah sendiri sudah mengatur persoalan sampah ini dengan menerbitkan Undang undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Berdasarkan aturan ini, setiap  orang dilarang mengimpor sampah, mencampur sampah dengan limbah bahaya dan  beracun, mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran, membuang sampah tidak  pada tempat yang telah ditentukan, melakukan penanganan sampah dengan pembuangan  terbuka, dan membakar sampah. 

Sebagai konsekuensi dari peraturan Pengelolaan Sampah tersebut, maka produsen atau  pabrik harus membatasi (reduce) jumlah sampah yang dihasilkan. Selain itu, kita juga perlu mengubah perilaku dan memperlakukan sampah sebagai sumber daya, bukan sebagai  hasil buangan (waste), dengan cara menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang (recycle). 

Untuk mendorong kesadaran semua pihak akan pengelolaan sampah, pemerintah  menargetkan pada tahun 2025 nanti Indonesia bisa mengurangi 30% sampah dan  menangani 70% sampah. 

Menurut Didi, banyaknya timbunan sampah dan pencemaran di DAS Citarum tidak terlepas  dari banyaknya jumlah penduduk yang hidup di sekitar sungai tersebut. Semakin besar penduduk suatu kota, maka semakin banyak juga sampah yang dihasilkan. Hal ini bisa  dilihat di Kota Bandung. 

Masalah yang dihadapi di DAS Citarum berawal dari persoalan krusial seperti perilaku  masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai, mulai dari sampah rumah tangga,  sampak domestik organik, anorganik, hingga bangkai hewan. Di samping itu, penanganan  sampah di DAS Citarum juga masih menemui kendala, seperti terbatasnya tempat  pembuangan sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA), dan terbatasnya  sarana angkut sampah. Padahal, jumlah sampah tiap desa selalu tinggi, bisa mencapai 15 ton per hari. Tumpukan sampah yang tidak teratasi ini akhirnya menimbulkan gas methan  yang memiliki daya rusak 10 kali lebih besar daripada karbondioksida.

“Itu sebabnya untuk  mengatasi persoalan sampah di DAS Citarum, kita perlu angkutan yang memadai, TPS dan  TPA yang memadai. Saat ini TPA Cinangka masih belum beroperasi. Kami berharap TPA ini  harus cepat dioperasionalkan,” ujar Didi.

Mengingat Sungai Citarum adalah sungai strategis nasional, maka kewenangan terkait  pengelolaan sungai tersebut ada di Kementerian Lingkungan Hidup. Selain itu, Sungai  Citarum yang melintasi 13 kota dan kabupaten juga membutuhkan campur tangan lintas  batas untuk mengatasi persoalan sampah di DAS Citarum.

“Perlu upaya penanganan dalam  pengelolaan sampah di Sungai Citarum, seperti pengelolaan bersama dan penanganan  khusus daerah perbatasan,” kata Didi. 

Dari kacamata akademisi, Muhammad Syahril Badri Kusuma, Ketua Kelompok Keahlian  Teknik Pengembangan Sumber Daya Air Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Guru  Besar ITB mengatakan, penyelesaian permasalahan Sungai Citarum harus bertujuan  mencapai Millennium Development Goals (MDGs) dan Sustainable Development Goals  (SDGs) yang disusun oleh The United Nations.

“Jadi, apapun upayanya, penyelesaian permasalahan Sungai Citarum harus berkelanjutan dan perlu mencakup permasalahan  ancaman bencana yang ada di DAS Citarum,” kata Syahril. 

Menurutnya, ancaman terbesar saat ini yang dihadapi sungai-sungai, termasuk Sungai  Citarum, ialah banjir. Ancaman ini semakin besar menghampiri di kala musim hujan, karena  air hujan akan membawa air dan sampah yang ada di permukaan sekitar sungai, ke dalam  sungai. Akumulasi air dan sampah ini akan terbawa bersama banjir mulai dari hulu hingga  muara di sekitar sungai. Banjir juga akan mempengaruhi kualitas air sungai, dari yang  semula bisa dimanfaatkan untuk air minum, menjadi tidak bisa. Itu sebabnya, Syahril  memandang perlu ada kajian pembagian alokasi air sungai untuk menentukan alokasi air  untuk air minum, industri, sawah, dan sebagainya. 

Langkah nyata sektor swasta dalam memperbaiki Citarum

Menyadari bahwa persoalan Sungai Citarum bukan hanya tanggung jawab pemerintah  semata, Coca-Cola Indonesia turut memberikan dukungannya dalam upaya memperbaiki  Sungai Citarum. Seiring dengan visi “World Without Waste”, Coca-Cola ingin menjadi  bagian dari solusi pengelolaan sampah demi mencapai target mengumpulkan dan mendaur  ulang botol plastik atau kaleng sejumlah yang dijual oleh perusahaan pada tahun 2030  nanti.

“Kami sebagai perusahaan yang memakai plastik sebagai bahan baku kemasan, kami  terpanggil untuk menjadi bagian dari solusi, demi menjaga masyarakat dan dalam jangka  panjang juga menjaga bisnis kami,” papar Triyono Prijosoesilo, Public Affairs and  Communication Director PT Coca-Cola Indonesia. 

Untuk mewujudkan visi “World Without Waste”, ada tiga kerangka kerja yang dilakukan Coca-Cola. Pertama, dalam hal desain, Coca-Cola berupaya membuat seluruh kemasan  bisa didaur ulang, menggunakan lebih banyak material daur ulang, dan mengurangi penggunaan plastik. Yang kedua, dalam hal pengumpulan sampah, Coca-Cola mendorong  upaya mengumpulkan sampah dan mengedukasi masyarakat tentang apa, bagaimana dan di mana bisa mendaur ulang sampah. Sementara yang ketiga, dalam bidang kemitraan, Coca-Cola bekerja sama dengan perusahaan lainnya untuk menciptakan lingkungan dan  laut yang bebas sampah. 

Di bidang kemitraan, Coca -Cola Indonesia bersama dengan Danone Indonesia, PT  Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Nestle Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk, dan PT  Tetra Pak Indonesia mendirikan Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE). Sementara di bidang pengumpulan sampah, Coca-Cola  Indonesia, sebagai bagian dari PRAISE mendirikan Indonesia Packaging Recovery  Organization (IPRO), yaitu suatu organisasi nonprofit yang bertujuan meningkatkan  pengumpulan sampah-sampah kemasan dan meningkatkan tingkat daur ulang dari plastik tersebut. 

“Tahun ini kami akan mulai pilot project di Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Tahun depan  kami akan ekspansi agar upaya ini bisa menjadi skala nasional,” ujar Triyono. Tak hanya  IPRO, Coca-Cola Indonesia juga menginisiasi beberapa program terkait pengumpulan  sampah seperti Plastic Reborn 1.0 dan 2.0, Eco Ranger, Dropbox, Jaga Indonesia, dan  Citarum River Clean Up. 

Selain dari kegiatan diatas The Coca-Cola Company juga memiliki partnership dengan Benieoff Ocean Initiative (BOI) telah memberikan dukungan US$ 1 juta untuk program Citarum River Clean Up. Pelaksanaan program Citarum River Clean Up ini dipimpin oleh Greeneration Foundation. 

Citarum River Clean Up merupakan bagian dari Clean Currents Coalition, yakni program  koalisi sembilan organisasi nonprofit yang bertujuan membersihkan sembilan sungai di  dunia. Clean Currents Coalition disponsori oleh The Coca-Cola Foundation dan Benieoff Ocean Initiative dengan total dukungan dana sebesar US$ 11 juta. 

Vanessa Letizia, Executive Director Greeneration Foundation menjelaskan, Sungai  Citarum dipilih sebagai sungai yang dibersihkan dalam program Clean Currents Coalition  karena sungai ini merupakan urat nadi masyarakat Jawa Barat. Namun, terlepas dari  perannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, Sungai Citarum begitu  tercemar oleh sampah.

Ia menjelaskan, setiap harinya, ada sekitar 1.300 ton sampah yang masuk ke sungai dan  mengendap di laut. Sehingga, sampah yang tidak dikelola dengan baik akhirnya membuat  laut jauh dari kata sehat meningkatkan risiko banjir untuk wilayah di sekitar sungai. 

Vanessa memandang, kerjasama menjadi kunci mengatasi persoalan sampah di Sungai  Citarum. Dalam program Citarum River Clean Up, Greeneration Foundation bekerja sama  dengan Waste4Change sebagai ahli manajemen sampah dan RiverRecycle sebagai pengembang teknologi untuk membersihkan sampah. Selain itu, kehadiran organisasi nonprofit juga dapat menjadi jembatan antara pemerintah, pelaku industri, masyarakat,  dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengatasi persoalan lingkungan.   

Dengan kerja sama antar pemangku kepentingan, program Citarum River Clean Up  diharapkan dapat berlangsung secara berkesinambungan, sehingga bisa menciptakan Citarum yang bersih. 

“Kami berharap program ini bisa menciptakan pengelolaan sampah  yang lebih baik dan terbangunnya alam yang sehat bagi masyarakat,” pungkas Triyono.