Program Plastic Reborn 2.0 adalah bagian dari visi World Without Waste yang diluncurkan oleh The Coca-Cola Company. Visi global tersebut disusun oleh tiga pilar utama yakni design, collection, dan partnership.

Dalam pilar design, Coca-Cola berusaha untuk merancang ulang kemasannya agar lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan menggunakan bahan baku daur ulang, bukan lagi virgin plastik. “Dalam 8 tahun terakhir, kami sudah mengurangi sekitar 10.000 ton pemakaian plastik virgin”, kata Triyono Prijosoesilo, Wakil Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia, dalam webinar Plastic Reborn 2.0: Kolaborasi Anak Muda Penggiat Sampah yang diadakan pada Sabtu (7/11). Ke depannya, Coca-Cola secara global akan mulai menggunakan kemasan yang 100 persen dapat didaur ulang.

Pengurangan penggunaan materi plastik ini (lightweighting) termasuk dalam pilar design. Selain itu Coca-Cola juga akan mulai mengganti plastik berwarna menjadi plastik bening, sehingga setelah dikonsumsi plastik tersebut lebih mudah didaur ulang dan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi,

Dalam pilar collection atau pengumpulan, The Coca-Cola Company berkomitmen untuk mengumpulkan kemasan botol plastik yang telah diproduksi untuk kemudian di daur ulang.

“Di tahun 2030 kami bisa mengumpulkan dan mendaur ulang 100 persen botol kemasan yang kami produksi. Inilah tujuan besarnya,” harap Triyono.

Fokus utama dari program Plastic Reborn 2.0

Triyono menjelaskan bahwa produksi sampah di Indonesia kurang lebih telah mencapai tujuh juta ton di mana 61 persennya tidak dikumpulkan dengan baik, karena berbagai hal. Akhirnya, sampah tersebut kembali ke alam dan mencemari lingkungan. Untuk itu, pada program Plastic Reborn 2.0 ini Coca-Cola Indonesia melalui Coca-Cola Foundation menggandeng  Ancora Foundation untuk dapat mencari startup lokal di bidang pengelolaan sampah. Setelah melalui seleksi yang ketat, maka terpilih tiga startup lokal yang dinilai cukup berhasil dalam mengumpulkan dan mengelola sampah plastik.

Program Plastic Reborn 2.0 ini juga sudah sesuai dengan pilar ketiga dari World Without Waste yakni partnership atau kemitraan. Lewat kerja sama dengan tiga startup tersebut, Coca-Cola Indonesia memfasilitasi agar kreativitas dan semangat ketiga startup tersebut bisa terbangun dan dituangkan menjadi sebuah aksi nyata.

Ahmad Zakky, Direktur Eksekutif Ancora Foundation, menjelaskan bahwa Plastic Reborn 2.0 adalah kelanjutan dari program Plastic Reborn yang diinisiasi Coca-Cola Foundation Indonesia pada tahun 2016 lalu. Berkaca dari pengalaman, ternyata tantangan terbesar dari penerapan ekonomi sirkular terletak pada pengumpulan sampah plastik bekas pakai. Oleh karena itu, Ancora Foundation dan Coca-Cola Foundation Indonesia mencari gerakan anak muda Indonesia yang fokus untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tiga startup yang digandeng oleh Coca-Cola Indonesia dalam Plastic Reborn 2.0

Setelah proses seleksi yang ketat, CCFI dan Ancora Foundation  fokus pada pengembang startup MallSampah, Clean Up Indonesia, dan Gringgo untuk tergabung dalam Plastic Reborn 2.0. Ketiga startup ini dipilih karena memiliki bisnis model yang cukup sustain dan juga sudah menerapkan penggunaan teknologi dalam operasionalnya. Menurut Ahmad Zakky, peran teknologi sangatlah penting karena bisa membuat proses pengelolaan sampah plastik jadi lebih efisien.

“Menurut saya mereka berhasil menunjukkan, dalam setahun terakhir bekerja sama, peningkatan dari volume sampah yang mereka kelola. Tidak saja dari sisi pengumpulan, tapi juga bagaimana sampah-sampah plastik tersebut memasuki alur sistem daur ulang, sehingga bisa diproses menjadi bahan baku,” lanjut Triyono.

Ketiga startup yang tergabung dalam program Plastic Reborn 2.0 memang mencatatkan peningkatan pengelolaan sampah plastik yang signifikan dibandingkan sebelum bergabung dengan program tersebut.

Adi Saifullah Putra, Co-Founder dari MallSampah, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah plastik oleh MallSampah mengalami peningkatan hingga 361,1 persen setelah mengikuti program Plastic Reborn 2.0. Pada tahun 2019 lalu, MallSampah hanya mengelola sampah plastik hingga tujuh ton saja. Setelah Plastic Reborn 2.0, jumlah ini naik menjadi 32 ton.

Peningkatan signifikan juga dicatatkan oleh CleanUp, bahkan hingga 893,3 persen. Sebelum mengikuti program Plastic Reborn 2.0, kapasitas pengumpulan sampah plastik CleanUp sebesar 15 ton per tahun. Namun, kini sudah meningkat hingga 149 ton.

Tak ketinggalan, Gringgo juga mengalami peningkatan kapasitas pengelolaan sampah plastik yang kini sudah mencapai 819 ton. Jumlah ini meningkat 136,2 persen dibanding tahun 2019 lalu yang baru menyentuh 347 ton saja. Jumlah pelanggan Gringgo pun turut meningkat hingga 10.000 rumah tangga.

Manfaat yang dirasakan ketiga startup setelah bergabung dalam Plastic Reborn 2.0

Sebelum memulai program bersama, ketiga startup ini diikutsertakan dalam program akselerasi dan mentoring untuk mematangkan produk, meningkatkan keberlanjutan, dan menciptakan model bisnis yang lebih efisien.

Adi Saifullah Putra, Co-Founder dari MallSampah, bercerita bahwa manfaat yang paling ia rasakan ada di sisi model bisnisnya.

“Dalam program Plastic Reborn kita dilatih dan di-mentoring bagaimana bisnis startup yang sustainable bisa tumbuh dengan baik,” kata Adi. Dari hasil program akselerasi tersebut, kini aplikasi MallSampah sudah diunduh sebanyak 20.000 kali di App Store dan Play Store, dari yang awalnya hanya 2.000 saja.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Iqra Putra Sanur, Founder & General Manager Clean Up Indonesia. Ia menuturkan bahwa Clean Up Indonesia telah mendapatkan banyak masukan berharga dalam hal pengelolaan perusahaan, termasuk juga peluang-peluang kolaborasi dengan MallSampah dan Gringgo. Sebagai public waste collector, Clean Up Indonesia berhasil membangun sistem pemberdayaan para pelaku pengangkutan sampah di Makassar dan Gowa, Sulawesi Selatan. 

Febriadi Pratama, CEO & Co-Founder Gringgo, juga bercerita ia mendapatkan mentorship dan network yang cukup banyak dari program akselerasi Plastic Reborn 2.0. “Dari apa yang kita dapatkan di program ini, kita juga banyak melakukan perbaikan secara administratif, secara struktur, dan juga kita bisa mengeksplor model-model yang berbeda,” kata Febriadi. Dari model-model yang berbeda ini, Gringgo mendapatkan pengalaman berharga yang bisa meningkatkan kinerjanya.

Kolaborasi ketiga startup dalam program Plastic Reborn 2.0

Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, program Plastic Reborn 2.0 ini lebih menitikberatkan pada solusi masalah pengumpulan sampah plastik. Untuk itu, ketiga startup ini didorong untuk saling berkolaborasi guna memecahkan masalah tersebut. Bentuk kolaborasinya pun beragam dan mampu menghasilkan use cases yang sangat vital untuk pengembangan masing-masing startup.

Contohnya, Clean Up Indonesia berkesempatan menjadi pengumpul sampah para pengguna aplikasi MallSampah. “Pada akhirnya, itu menjadi channel marketing baru kami, dalam tanda kutip, karena dapat membantu memperkenalkan layanan Clean Up Indonesia sebagai public waste collector di beberapa kota yang sudah ada aplikasi MallSampah,” kata Iqra.

Di sisi lain, MallSampah juga sudah memperbaharui aplikasinya untuk mengintegrasikan layanan pengangkutan sampah oleh Clean Up Indonesia. Dengan demikian, para pengguna bisa mendaur ulang sampahnya dengan lebih mudah.

Sinergi ini tercipta lantaran Clean Up Indonesia dan MallSampah memiliki model bisnis yang saling melengkapi meski berbeda. MallSampah fokus pada proses daur ulang sedangkan Clean Up Indonesia pada proses pengumpulan saja.

Selain itu, Gringgo juga berkolaborasi dengan Clean Up Indonesia untuk mengembangkan teknologi yang bisa membantu pekerjaan Clean Up Indonesia selama di Gowa, Sulawesi Selatan. Gringgo membantu Clean Up Indonesia dalam menganalisa data-data yang sudah dikumpulkan untuk menciptakan cara kerja yang lebih efisien.

Dari prose kolaborasi ini, masing-masing startup mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga yang bisa diterapkan untuk masa mendatang. Dengan demikian, ketiganya bisa tetap sustain dan mampu berkontribusi positif pada pengentasan masalah sampah plastik di Indonesia.

Menurut Adi Saifullah Putra, industri sampah dan daur ulang sampah itu bukan hanya tentang nilai rupiah dari sampah saja, tetapi juga tentang penciptaan ekonomi sirkular dan bagaimana hal tersebut memengaruhi perilaku konsumen dan juga produsen. Jadi, revenue yang dihasilkan oleh ketiga startup ini bukan semata-mata dari hasil penjualan sampah saja, tapi juga dari teknologi yang mereka kembangkan untuk mengatasi masalah sampah.

“Sehingga untuk teman-teman yang baru ingin memulai, peluangnya sangat terbuka lebar, karena sangat kompleks permasalahannya,” tutup Adi Saifullah Putra.