Sabtu pagi yang tenang di bulan April 2020. Di saat banyak orang masih menikmati akhir pekan dengan lambat, beberapa associates dari Coca-Cola Indonesia sudah berderap. Mereka punya janji wawancara dengan seseorang yang inspiratif. Seseorang yang oleh karena rasa kemanusiaannya yang kuat, rela mempertaruhkan nyawanya. Orang itu tak lain adalah dr. Handoko Gunawan, Sp. P, dokter spesialis paru berusia 79 tahun yang masih aktif melayani pasien COVID-19.

Di usianya yang senja, Handoko sadar betul bahwa penyakit ini begitu berbahaya. Namun, alih-alih berdiam diri di rumah, Handoko terketuk untuk ikut merawat pasien COVID-19. Sungguh bukan pilihan yang mudah. Sebab, karena keputusannya itu, Handoko sempat terinfeksi virus corona. Handoko adalah salah satu dari banyak pahlawan tanpa tanda jasa, atau unsung heroes, yang berjuang di garda depan dalam melawan pandemi ini.

Bagi Coca-Cola Indonesia , kisah pahlawan tanpa tanda jasa ini perlu disebarkan untuk menguatkan masyarakat tentang arti kemanusiaan di tengah situasi sulit sekarang ini. Virus ini telah mengancam seluruh masyarakat, tanpa mengenal batas negara, suku bangsa, ataupun tingkat ekonomi. Sejak virus ini mewabah, kehidupan kita tidak lagi sama. Kita tidak lagi bisa bekerja dan beraktivitas dengan leluasa. Roda ekonomi pun ikut melambat. Dampak fatal virus corona yang dapat berujung pada kematian pun menimbulkan kecemasan yang tidak berujung.

Di tengah situasi seperti ini, masyarakat perlu mendengar lebih banyak hal positif yang membuatnya percaya bahwa kemanusiaan itu masih ada. Bahwa manusia tidak pernah sendirian menghadapi ujian ini. Kita menghadapi ujian ini bersama-sama. “Ini adalah saat dimana kita harus menyebarkan harapan positif dari rasa kemanusiaan yang ada di sekeliling kita. Dan film mini For The Human Race (FTHR) adalah cerita tentang kemanusiaan dan pengorbanan dari pahlawan di garda terdepan dari Indonesia,” ujar Fauziah Syafarina Nasution , Manager Communication Coca-Cola Indonesia.

Membagikan pesan positif melalui For The Human Race

Yulia Suraatmaadja, Senior Brand Manager Sparkling Coca-Cola Indonesia bersama Arifa Islamie, Senior Content Manager Coca-Cola Indonesia, adalah orang-orang yang berada di belakang layar dari pembuatan film mini For The Human Race – Indonesia.

 “FTHR adalah narasi positif yang ingin kami sampaikan untuk masyarakat dunia dan juga Indonesia, untuk mengangkat cerita-cerita positif di balik ujian yang sedang kita hadapi, juga memberikan sorotan untuk pahlawan-pahlawan di garda terdepan yang telah berjuang tanpa kenal takut dan lelah,” ujar Arifa.

Coca-Cola Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menyampaikan pesan positif yang penuh dengan harapan dan semangat kebersamaan. Di kala dunia sedang mengalami pandemi dengan dampak yang masif bagi seluruh lini masyarakat, tentu pesan positif dan kebaikan akan menjadi secercah harapan yang bisa menguatkan dan mengembalikan kepercayaan pada kemanusiaan.

Berangkat dari misi tersebut, video FTHR dibuat untuk menyebarkan semangat kemanusiaan pada mereka yang mengalami tekanan dan ujian dikarenakan pandemi, baik yang terdampak langsung seperti pasien, dokter, perawat, tenaga kesehatan, staf rumah sakit, dan staf suku dinas pertamanan dan pemakaman, ataupun pihak yang tidak terdampak langsung seperti masyarakat yang juga harus mengurangi aktivitas di luar rumah.

 “Kita semua harus menunjukkan rasa hormat dan apresiasi bagi mereka yang berada di garda terdepan,” kisah Yulia yang sudah bergabung di Coca-Cola Indonesia sejak tahun 2011 ini.

Lebih lanjut, Yulia mengatakan bahwa video FTHR bertujuan mengajak dan mengedukasi masyarakat agar meningkatkan protokol kesehatan seperti rajin cuci tangan dengan sabun dan disinfektan, serta selalu mengenakan masker agar kita dapat mengurangi penyebaran penyakit ini. “Karena pesan yang ingin disampaikan ini sangat penting, beliau pun setuju untuk mendukung The Coca-Cola Company untuk menyampaikan pesan ini,” tutur Yulia.

Namun, membagikan pesan positif ini pun memiliki tantangan tersendiri bagi Yulia dan Arifa. Bagi mereka, ada banyak orang yang mendedikasikan diri dan keahliannya untuk memerangi pandemi virus corona di Indonesia. Itu sebabnya, keduanya sempat menemukan kesulitan untuk memilih satu untuk merepresentasikan para pahlawan pandemi. Namun, Yulia dan Arifa memandang Handoko memiliki narasi yang unik.

Awal Maret 2020, sebelum Indonesia mengumumkan kasus pertama COVID-19, Handoko sudah menangani pasien-pasien bergejala COVID-19 di rumah sakit swasta di Jakarta tempat beliau praktik. Dengan berani, Handoko tetap bertugas meski mengetahui risiko yang menantinya. Benar saja. Tak lama setelah Handoko merawat pasien-pasien dengan gejala COVID-19, ia pun terinfeksi virus corona. Alhasil, ia harus menjalani karantina di rumah sakit dan terpisah dengan keluarga selama dua minggu.

“Beliau sendiri sudah jauh melewati masa pensiun namun masih sangat aktif merawat pasien-pasiennya, termasuk pasien bergejala COVID-19,” ujar Arifa yang bergabung di Coca-Cola Indonesia sejak tahun 2016 ini. Arifa juga menegaskan bahwa proses pembuatan video FTHR ini sangat mengutamakan keselamatan Handoko dan seluruh kru.

Itu sebabnya wawancara ini dilakukan melalui video conference dan tidak ada tim produksi video yang dikerahkan ke lapangan. “Mengingat Handoko baru saja pulih dari COVID-19 setelah menjalani karantina, sehingga ia sangat membatasi interaksi fisik selain dengan keluarga yang tinggal serumah dan staf dan tim di rumah sakit. Itu sebabnya, Yulia dan Arifa melakukan wawancara di suatu Sabtu pagi, di mana Handoko sedang beristirahat di rumah,” papar Arifa .

Melalui video Unsung Heroes Indonesia For The Human Race yang menghadirkan sosok Handoko, The Coca-Cola Company ingin meyakinkan kita semua bahwa dimanapun kita berada, apapun peranan yang mampu kita ulurkan di tengah pandemi ini, percayalah dan tetap semangat untuk membagikan kebaikan. “Karena, satu-satunya cara untuk melewati ini semua ialah, kita harus saling mendukung dan berjuang bersama,” pungkas Arifa.

Mengenal dr. Handoko Gunawan, Sp. P, the Unsung Heroes

Masih lekat dalam ingatan Handoko Gunawan tentang beberapa pasien dengan gejala COVID-19 yang mendatangi rumah sakit tempatnya berpraktik pada 5 Maret 2020. Meski hasil tes swab belum keluar, namun Handoko tetap berkomitmen menjalankan tugasnya sebagai dokter spesialis paru dan merawat pasien-pasien tersebut, meski nyawa menjadi taruhannya. Soal risiko tertular, Handoko sudah meresapinya sebagai risiko seorang dokter.

Karena pengabdiannya merawat pasien-pasien COVID-19, Handoko pun sempat terinfeksi virus corona. Ia dinyatakan sembuh setelah menjalani karantina selama dua minggu.

Bahaya ini tak hanya mengintai Handoko. Ada banyak tenaga medis yang bertaruh nyawa melawan virus corona, mulai dari dokter, suster, petugas laboratorium, petugas kasir, hingga cleaning service di rumah sakit. Mereka paham bahwa virus corona menular dan bisa merenggut nyawa, tetapi mereka tetap melayani dengan sepenuh hati.

Maka Handoko berpesan, sebagai warga yang baik, cara terbaik untuk menghormati pengorbanan paramedis ialah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan, sering mencuci tangan dan menjaga jarak dengan orang lain. Warga juga bisa mendukung paramedis dengan memberikan perlengkapan kesehatan.

Apakah kamu sudah melakukan peranmu? Mari, saatnya memberikan secercah harapan untuk percaya pada kemanusiaan!