Coca-Cola tengah mengembangkan sebuah strategi bisnis untuk menjadi perusahaan minuman seutuhnya dengan menyediakan berbagai macam pilihan produk minuman bagi masyarakat—termasuk beragam pilihan minuman rendah dan bebas gula—dalam kemasan yang lebih bervariasi dan menjualnya di berbagai lokasi.

Membangun sebuah portofolio “brand yang berorientasikan konsumen” memerlukan pergeseran fokus dari apa yang ingin dijual perusahaan menjadi apa yang ingin dibeli konsumen, jelas Presiden dan Chief Operating Officer James Quincey, yang mengungkapkan strategi ini sebagai bagian dari visi pertumbuhan masa depan perusahaan di konferensi Consumer Analyst Group of New York (CAGNY) yang bertempat di Boca Raton, Florida, hari ini.

“Kita perlu bertanya, “Kemanakah arah konsumen saat ini?” jelasnya, sambil menekankan pentingnya untuk tetap berada selangkah lebih maju dari tren dan selera yang selalu berkembang. “Konsumen tengah mencari produk yang lebih alami. Terkadang dengan kandungan gula yang lebih sedikit. Terkadang mereka mencari produk yang mempunyai lebih banyak manfaat.”

Quincey, yang akan menjabat sebagai CEO Coca-Cola pada bulan Mei nanti, mengatakan bahwa pendekatan multifaset yang diadopsi The Coca-Cola Company untuk memenuhi perubahan selera dan kebutuhan masyarakat meliputi sejumlah kebijakan seperti pengurangan kandungan gula dan kalori di berbagai brand; menawarkan produk minuman baru yang memberikan manfaat kesehatan seperti hidrasi dan nutrisi; memperluas ketersediaan kemasan yang lebih kecil dan mudah dibawa untuk membantu masyarakat menjaga asupan gulanya; dan menyediakan informasi kalori secara jelas dan mudah ditemukan untuk membantu masyarakat membuat pilihan yang tepat sesuai keinginan mereka masing-masing.

Menempatkan fokus pada konsumen, lanjut Quincey, dimulai dengan meninjau ulang sejumlah komposisi produk minuman The Coca-Cola Company demi mengurangi kandungan gula serta melakukan investasi untuk menciptakan pemanis nol kalori generasi terbaru. Tujuannya adalah untuk menyediakan produk minuman rendah dan tanpa gula yang diinginkan masyarakat tanpa harus menghilangkan rasa nikmat yang mereka kenal dan sukai.

Pada saat yang sama, The Coca-Cola Company mendukung rekomendasi sejumlah otoritas kesehatan terkemuka saat ini, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization—WHO), dalam membatasi asupan gula tambahan seseorang hingga tak lebih dari 10 persen dari total asupan kalori/energi harian mereka.

 “Kami telah bergerak untuk mencapai tujuan tersebut,” jelas Quincey, mengutip upaya The Coca-Cola Company untuk membuat minuman rendah dan tanpa gula lebih mudah ditemukan, dan menawarkan lebih banyak produk minuman seperti teh organik, air kelapa, susu, kopi siap saji, jus dan air yang dimurnikan bagi lebih banyak orang di lebih banyak tempat.

Di tahun 2017, The Coca-Cola Company akan mengurangi kandungan gula di lebih dari 500 produk minumannya di seluruh dunia—mengikuti 30 persen dari 3.900 minuman yang sebelumnya telah dikategorikan sebagai produk rendah atau tanpa gula.

The Coca-Cola Company juga melakukan investasi untuk membangun kesadaran akan minuman rendah dan tanpa gula. Sebagai contoh, strategi pemasaran global “One Brand” yang diluncurkan pada awal tahun 2016 menyatukan keempat Merek Dagang Coca-Cola—Coca-Cola, Coke Zero, Diet Coke/Coca-Cola Light dan Coca-Cola Life—dalam kampanye “Taste the Feeling” yang kreatif, menggarisbawahi komitmen perusahaan dalam menawarkan Coca-Cola bagi semua selera dan gaya hidup.

Salah satu elemen dari strategi ini adalah dengan menghadirkan kemasan produk yang lebih kecil dan mudah dibawa. Saat ini, sekitar 40 persen dari produk minuman bersoda The Coca-Cola Company tersedia dalam ukuran 250 mL (8.5 oz.) atau berkemasan lebih kecil. Sebesar 15 persen dari total transaksi produk minuman bersoda The Coca-Cola Company di Amerika Utara terdiri dari penjualan kaleng mini dan kemasan kecil lainnya.

The Coca-Cola Company telah menerapkan berbagai kebijakan dan tindakan yang sejalan dengan strategi ini selama bertahun-tahun. Pada bulan September 2009, Coca-Cola menjadi perusahaan minuman pertama yang berkomitmen pada penempatan label jumlah kalori di bagian depan kemasan sebagian besar produknya secara global, dan hal tersebut berlanjut hingga saat ini. Selain itu, The Coca-Cola Company juga mematuhi kebijakan jangka panjangnya untuk tidak menargetkan kampanye iklan kepada anak-anak berusia di bawah 12 tahun di belahan dunia manapun.

Semua ini membuktikan bahwa beragam produk, program dan kebijakan tersebut—serta masa depan The Coca-Cola Company—didasarkan pada wawasan konsumen.

“Kami mendengarkan dengan saksama dan berupaya untuk memastikan bahwa para konsumen berada tepat di dalam inti bisnis kami sehingga kami dapat terus tumbuh dengan penuh tanggung jawab,” ujar Quincey. “Jika kami mampu mengikuti kemanapun arah gerak konsumen, brand kami akan berkembang dan sistem kami akan terus tumbuh. Inilah yang menjadi Langkah Kami ke Depan.”