Oleh Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc. dari Indonesian Nutrition Association

Asam askorbat, atau yang lebih akrab dikenal sebagai vitamin C, adalah salah satu zat gizi yang terkandung dalam buah dan sayur. Dulu, vitamin C telah dikenal sejak tahun 1920-an oleh seorang ilmuwan Hongaria bernama Albert Szent-Györgyi dari Universitas Szeged. Saat itu vitamin C dipakai untuk mencegah dan mengobati pendarahan gusi dan bawah kulit, yang bila dibiarkan bisa mengakibatkan gangguan penyembuhan luka, anemia dan gangguan pertumbuhan tulang dan banyak diderita oleh orang-orang yang jarang mengonsumsi buah dan sayur.

Dengan banyaknya kemajuan ilmu kedokteran dan bertambahnya masalah kesehatan manusia, seperti adanya penyakit infeksi yang bersamaan dengan adanya penyakit kronis semisal penyakit jantung dan pembuluh darah, sekitar tahun 1930 ditemukan efek lain dari vitamin C yaitu efek-anti bakteri terhadap kuman penyebab TBC dan bisa menghambat perbanyakan (replikasi) berbagai jenis virus, parasit dan jamur.

Vitamin C juga bisa menjadi antioksidan saat adanya peradangan kronis dan stres oksidatif akibat kondisi kronis, yaitu gangguan lambung (gastritis), gangguan pencernaan, diabetes tipe-2, obesitas, peradangan paru, penyakit saraf menahun, penyakit jantung dan pembuluh darah. Efek sebagai antioksidan ini berhubungan erat dengan sistem imun tubuh yang diatur oleh sel darah putih, yang membutuhkan vitamin C untuk proses perbanyakannya. Walaupun di dalam tubuh tersedia antioksidan endogen, namun dalam kondisi tertentu jumlahnya tidak cukup sehingga memerlukan vitamin C dan mineral lain.

Sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor 9 tahun 2016 tentang Acuan Label Gizi, kebutuhan vitamin C untuk umum adalah sebesar 90 mg per hari.

Anjurannya, vitamin C bisa dikonsumsi sebesar 200 mg atau lebih setiap harinya, untuk mempertahankan kadar normalnya dalam darah. Namun, bila kita aktif berolahraga dan kegiatan fisik lainnya, maka perlu menambah suplementasi vitamin C 500-1,000 mg/hari supaya tidak mengalami gangguan pernapasan setelah berolahraga. Terlebih pada seorang perokok dan sering mengonsumsi makanan yang tidak segar dan minuman keras, suplementasi vitamin C sangat diperlukan. Supaya dapat terhindar dari penyakit jantung, dianjurkan untuk mengonsumsi vitamin C dengan kadar 320-1,100 mg/hari.

Kalau seseorang kekurangan vitamin C, maka akan terjadi hipovitaminosis C dalam darah atau status kekurangan vitamin C dan bisa menyebabkan berbagai gejala klinis terkait dengan fungsi vitamin C sebagai anti-skorbut, anti-mikroba, anti peradangan atau antioksidan terkait penyakit kronis, penuaan dan imunitas tubuh.

Kita bisa mengetahui kecukupan asupan vitamin C setiap harinya dengan mengevaluasi makanan yang telah kita makan. Idealnya, kita wajib mengonsumsi buah dan sayur sebanyak tiga porsi per hari. Mendapatkan sumber vitamin C bukanlah hal yang susah. Dengan mengonsumsi sayur dan buah, kita sudah bisa mendapat asupan vitamin C. Jambu biji mengandung 125 mg vitamin C di setiap buahnya, jeruk (70 mg/buah), papaya (90 mg/150 mg buah), stroberi (90 mg/150 g buah), brokoli (80 mg), kembang kol (50 mg), bayam (8,5 mg/30 g).

Bila dirasa kurang,  maka kita dapat memperolehnya dari makanan dan minuman yang telah mengalami proses penambahan mikronutrien dengan melihat di label kemasannya, dan juga dari suplemen vitamin C. Sebagai penutup, vitamin C merupakan zat gizi esensial, sehingga pemenuhan kecukupannya harus diperoleh dari asupan makanan sehari-hari maka konsumsinya secara terus menerus justru dianjurkan.