Masalah sampah plastik merupakan salah satu isu paling krusial saat ini. Sebab, menurut Badan Pusat Statistik Indonesia, permasalahan sampah di Indonesia berpotensi memacu percepatan pemanasan global dan perubahan iklim.

Seperti yang diketahui bersama, saat ini kita masih dapat dengan mudah menemukan konsumen rumah tangga dan industri kecil membuang sampah dengan cara yang membahayakan lingkungan. Mulai dari dibakar, dibuang ke sungai atau parit, dibuang sembarangan, hingga dikubur. Hal ini tak lepas dari kurangnya pemahaman dan program daur ulang yang belum terintegrasi secara efektif.

Tentunya. hal ini patut menjadi perhatian kita semua agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati dunia selayaknya kita dulu. Jadi, untuk mengatasi masalah sampah plastik ini, diperlukan kolaborasi multi stakeholder, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga konsumen sendiri.

Salah satu langkah nyata yang diambil oleh para pelaku industri ialah dengan dengan mendirikan PRAISE (Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment) atau Asosiasi untuk Kemasan dan Daur Ulang Bagi Indonesia yang Berkelanjutan.

PRAISE merupakan lembaga non-profit yang didirikan oleh Coca-Cola Indonesia, Indofood Sukses Makmur, Nestlé Indonesia, Tetra Pak Indonesia, Tirta Investama, dan Yayasan Unilever Indonesia dengan visi untuk menciptakan dan menggerakkan ekosistem yang berkelanjutan serta mampu mengubah sampah kemasan menjadi sumber daya bernilai tinggi yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi Indonesia pada tahun 2030.

Hal ini sejalan dengan visi World Without Waste dari Coca-Cola yang menargetkan untuk menggunakan 100% kemasan yang dapat didaur ulang secara global pada tahun 2025, menggunakan setidaknya 50% bahan daur ulang dalam kemasan pada tahun 2030, mengumpulkan dan mendaur ulang botol atau kaleng produk Coca-Cola yang terjual pada tahun 2030, dan bekerja sama untuk mendukung lingkungan yang sehat dan bebas sampah.

“Untuk merealisasikan ambisi kami, kami mendukung pembentukan ekosistem ekonomi sirkular di mana sampah kemasan dilihat sebagai sumber daya, bukan sekadar sampah,” kata Diego Gonzalez, Presiden Direktur Coca Cola Indonesia.

Apa yang diutarakan oleh Diego Gonzalez ini bukan tanpa alasan. Sebab, permasalahan sampah sejatinya bisa diolah menjadi peluang yang dapat mendatangkan manfaat ekonomis dengan menerapkan praktik ekonomi sirkuler. Terbukti pada tahun 2017, praktik ekonomi sirkuler pada 5.244 bank sampah di lintas 34 provinsi Indonesia berhasil menciptakan peluang kerja dan bidang pekerjaan baru bagi komunitas di sekitarnya.

Untuk itu, PRAISE bersama dengan sejumlah stakeholder lainnya, meluncurkan program Packaging Recovery Organization (PRO) secara virtual pada 25 Agustus 2020 lalu, untuk menjawab sejumlah tantangan pada pengelolaan sampah dan optimalisasi praktik ekonomi sirkuler di Indonesia.

PRO ini akan beroperasi sebagai suatu lembaga non-profit yang dikelola secara profesional dan independen. Aktivitas PRO sendiri akan terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu:

  • Kategori A untuk kemasan polyethylene terephthalate (PET), yang bertujuan membangun Pasar Daur Ulang atau Hasil Akhir.
  • Kategori B untuk kemasan used beverage carton (UBC), flexibles, dan high-density polyethylene (HDPE), untuk pengembangan kapasitas sistem pengumpulan.
  • Kategori C, yang meliputi edukasi kepada masyarakat.

Di tahun 2020, program-program PRO akan fokus dijalankan di Surabaya dan Bali dengan merencanakan penanganan bahan kemasan berupa plastik jenis PET dengan target daur ulang sebesar 60%. Kemudian, pada tahun 2021 dan seterusnya, PRO akan fokus pada penanganan materi kemasan lainnya, yaitu UBC, flexibles, dan HDPE. Pada tahun 2021, PRO akan memperluas peluang untuk ekspansi keanggotaan agar dapat meningkatkan jumlah pemangku kepentingan yang terlibat.

Triyono Prijosoesilo, Public Affairs and Communication Director PT Coca-Cola Indonesia mengatakan bahwa dibuatnya PRO adalah langkah baik untuk Indonesia. Tahun pertama PRO akan cukup berat karena harus menghadapi situasi pandemi yang tak menentu. Namun karena menghadapi situasi sulit akibat pandemi, banyak pelaku industri yang berkomitmen untuk melanjutkan peran penting dalam mengatasi masalah sampah kemasan di Indonesia. Berbagai stakeholder bekerja sama untuk meningkatkan pengumpulan dan mendaur ulang sampah kemasan di Indonesia.

“Namun, dengan manajemen yang profesional dan dukungan penuh dari industri serta pemerintah dan pemangku kepentingan, saya sangat yakin bahwa PRO dapat menjadi solusi yang mengubah keadaan dan katalisator yang mendorong terciptanya ekosistem yang tepat untuk menangani masalah sampah kemasan di Indonesia. PRO bisa menjadi masa depan Indonesia dalam Ekonomi Sirkuler dan contoh cemerlang bagaimana para pemangku kepentingan Indonesia berkumpul untuk menghasilkan solusi Indonesia,” ungkap Triyono Prijosoesilo.

Dibentuknya PRO oleh PRAISE pun mendapatkan apresiasi dari beragam kalangan. Hadir dalam peluncuran, Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia turut menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap program PRO yang diinisiasi oleh PRAISE. Luhut juga mengajak pemerintah daerah untuk mendukung kesuksesan program-program PRO.

"Saya mendukung sepenuhnya pemulihan kemasan, ini bentuk kepedulian dunia industri untuk menyelesaikan permasalahan sampah industri, dan ini masalah dunia. Kita coba hitung masalah sampah, Jakarta saja sudah 8.000 ton per hari," kata Luhut dalam konferensi pers peresmian PRO di Kemenkomarves, Selasa (25/8), sebagaimana yang dikutip dari Kumparan.com.

Khofifah Indar Parawansa selaku Gubernur Provinsi Jawa Timur, yang turut berpartisipasi sebagai narasumber pada diskusi panel pun ikut menyampaikan apresiasinya.

“Dengan adanya program PRO sebagai upaya kolektif dari industri, saya optimis akan bisa memberi manfaat sosial ekonomi maupun lingkungan dari praktik ekonomi sirkuler. Harapannya ke depan, program ini akan bisa dikembangkan di kabupaten/kota lain di Jatim sehingga manfaatnya semakin bisa dirasakan masyarakat luas,” ungkap Khofifah.

Jadi, dengan adanya program PRO yang diinisiasi oleh PRAISE ini, kita seperti mendapat secercah harapan untuk Indonesia yang bebas sampah plastik dalam beberapa dekade mendatang.

“PRO bisa menjadi masa depan Indonesia dalam kegiatan ekonomi sirkular dan contoh cemerlang bagi negara lain dalam menjadikan masalah sampah kemasan menjadi bagian di masa lalu bagaimana menjadikan masalah sampah kemasan menjadi sesuatu dari masa lalu,” tutup Diego Gonzalez.