Botol plastik PET ini biasa kita jumpai sebagai kemasan botol soda, botol mineral, kopi susu, jus buah, dan sebagainya. Tapi, di tangan perusahaan yang kreatif, plastik-plastik PET bekas tersebut bisa dimanfaatkan lagi sebagai bahan baku dan diproduksi menjadi barang baru. Jika semua plastik PET ini bisa didaur ulang, tentu sampah di dunia bisa berkurang.

Sejalan dengan visi dari World Without Waste, di mana plastik memiliki kehidupan kedua seperti yang dicetuskan dalam konsep circular economy, sejak tahun 2018, The Coca-Cola Company berkomitmen untuk mengumpulkan dan mendaur ulang botol atau kaleng sejumlah yang sama dengan yang diproduksi, pada tahun 2030. Di samping itu, visi World Without Waste juga mendorong The Coca-Cola Company untuk berkomitmen membuat seluruh kemasan bisa didaur ulang pada tahun 2025 dan menggunakan 50% bahan baku daur ulang pada botol dan kaleng pada tahun 2030.

Coca-Cola Indonesia gunakan merchandise rPET untuk marketing campaign

PT Coca-Cola Indonesia sendiri memproduksi merchandise rPET sebagai bagian circular economy dengan memberikan nilai tambah untuk limbah dalam bentuk hadiah untuk pembelian produk bagi para konsumen dan suvenir untuk rekan-rekan media. Beragam merchandise rPET yang diproduksi oleh Coca-Cola Indonesia juga senantiasa menyesuaikan lifestyle, seperti di antaranya kaos, tas, jins, celemek, oven mitten, ID tag, agenda, tempat pensil, raincoat, tempat tisu, tempat hand sanitiser, kacamata, notebook, topi, dan sebagainya.

Untuk merchandise berupa kaos misalnya, Coca-Cola Indonesia menggunakan bahan baku 55% katun dan 45% rPET yang nyaman dipakai. Untuk memproduksi satu kaos, diperlukan sekitar lima botol sampai enam botol rPET. Adapula tas yang seluruh bahan bakunya berasal dari rPET.

Menurut Titi Nurmalasari, Public Affairs & Communications Coca-Cola Indonesia, perusahaan pemberian merchandise berbahan dasar rPET merupakan bentuk edukasi ke publik mengenai daur ulang. “Coca-Cola menggunakan bahan rPET sebagai merchandise sekaligus sebagai alat edukasi pada konsumen bahwa botol plastik yang dipilah dengan baik, pembuangannya tidak disatukan, dan sampai di tangan yang tepat, bisa dimanfaatkan menjadi merchandise yang berguna,” tutur Titi, Maret 2021 lalu.

Untuk membuat merchandise rPET, Coca-Cola Indonesia mempercayakan pada suatu vendor yang memproduksi barang-barang promosi. Selain menggunakan vendor yang tepat, Coca-Cola Indonesia pernah juga bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat seperti Waste4Change, Ancora Foundation, dan pengusaha tekstil lokal.

Titi menjelaskan, untuk mengubah botol PET bekas menjadi merchandise rPET, pertama-tama botol PET akan dicacah menjadi flakes. Flakes ini selanjutnya akan diubah menjadi bahan baku benang. Vendor kemudian akan mengunakan bahan baku benang tersebut menjadi merchandise.

Di samping itu, Coca-Cola Indonesia juga bekerja sama dengan komunitas-komunitas untuk mendaur ulang botol PET dan menghasilkan merchandise rPET.

Sebelumnya, pada tahun 2017 Coca-Cola Indonesia menggagas Plastic Reborn 1.0 bekerja sama dengan Waste4Change dan Ancora Foundation dalam mengolah rPET menjadi merchandise. Melalui Plastic Reborn 1.0, Coca-Cola Indonesia mengedukasi masyarakat bahwa plastik PET bukanlah sampah, melainkan suatu bahan baku yang bernilai. Kala itu, CCFI mengedukasi lebih dari 4.300 siswa SMA dan memfasilitasi pengumpulan kemasan plastik pasca konsumsi di lebih dari 100 sekolah dan universitas di Jakarta dan Bekasi yang. Sampah ini kemudian dikelola dan diproses menjadi tas serbaguna serta bernilai ekonomi. Kemudian, tas ini dijual kepada masyarakat luas melalui marketplace.

Menemukan inspirasi merchandise rPET dari drama Korea

Titi mengolah ide supaya merchandise dapat digunakan dan bernilai lebih. “Saya selalu mencari ide merchandise rPET yang bisa dipakai. Karena itulah muncul merchandise ID tag, celemek, oven mitten, tas laptop baik yang dijinjing maupun yang ransel. Tas yang dibikin pun tas yang gaya. Nah, belakangan, menyesuaikan dengan kondisi pandemi, kami juga membuat raincoat, tempat tisu, tempat hand sanitiser, dan tempat tisu basah dan tisu kering, semua berbahan rPET” kisah Titi.

Sementara pengalaman yang menantang menurut Titi ialah ketika ia harus melakukan quality control yang ketat, dengan waktu yang terbatas. Kontrol kualitas ini diperlukan agar merchandise yang dihasilkan keren, tahan lama, sesuai dengan brand value Coca-Cola Indonesia, serta menarik minat masyarakat untuk melakukan menggunakan rPET juga.

Titi mengaku senang ketika orang menerima merchandise Coca-Cola Indonesia, mereka suka, dan kaget bahwa ini dari bahan plastik bekas. "Jadi ada "wow effect". Ini sangat penting agar orang dapat melihat kehidupan kedua dari plastik, lalu mereka mulai memilah sampah dari rumah dan memberikan sampah botol plastik ke pemulung atau bank sampah," kata Titi. Dengan begitu, sampah bisa digunakan kembali .