Wasiman, seorang petani di Pantai Grigak, Gunung Kidul, Yogyakarta, memandang lahan padi yang ia garap. Setiap kali bertani, terselip doa Wasiman agar tanaman yang ia garap tumbuh subur. Sebagai petani yang mengandalkan pengairan dari air hujan, Wasiman memang tak bisa menanam sepanjang tahun. Jadi, setiap kali bisa menanam, ia sungguh berharap agar lahannya bisa panen besar.

Saat musim hujan tiba, ia biasa menanam padi, singkong, cabai, terong, dan sayur-sayur lainnya. Namun di saat musim kemarau, tak banyak pilihan tanaman yang bisa ia tanam. Maklum, di Pantai Grigak yang terletak di Dukuh Karang, Kelurahan Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul ini memang merupakan daerah tandus. “Di sini masalah paling utama adalah air. Kalau tanah, saya jamin tanah di sini subur,” kata pria paruh baya itu kepada Coca-Cola Indonesia.

Sarinem, petani lain di Pantai Grigak mengamini hal tersebut. Menurutnya, lahan yang tandus membuat petani hanya bisa menanam saat musim hujan yang hanya berlangsung lima bulan hingga tujuh bulan dalam setahun.

Andai saja air selalu mengalir di dukuh tersebut, tentu para petani dapat menanam apa saja sepanjang tahun. Saking tandusnya, masyarakat Dukuh Karang punya ungkapan untuk menggambarkan desa mereka, yaitu ‘cedak watu, adoh ratu’. Artinya, dekat dengan batu, jauh dari raja. Ini yang membuat para petani pesimis menanam sehingga tanaman yang ditemukan di daerah ini pun tidak banyak, hanya ketela, pisang, jagung, dan padi gogo.

Ratno, Kepala Dukuh Karang, kerap mendengar keluh kesah warga saat musim kemarau tiba. “Warga yang sebagian besar petani mengalami kekurangan apapun, airnya kurang, makanan juga tidak ada. Jadi warga harus membeli air dan makanan, baik untuk mereka sendiri maupun untuk ternak,” ujar Ratno. Bagi warga yang tidak sanggup menanggung kebutuhan ini, terpaksa harus menjual sebagian ternaknya untuk melanjutkan hidup.

Air dari embung pelengkap kesuburan tanah

Secara geografis, tanah di Pantai Grigak merupakan tanah yang kaya akan mineral esensial yang diperlukan oleh tanaman. Terlebih lagi, tanah di Pantai Grigak termasuk tanah karst atau tanah kapur dengan tingkat keasaman (pH) di atas 6. “Ini sangat bagus untuk tanaman, di mana penyerapan pospor dan kalium akan semakin mudah dengan pH yang di atas 6,” papar Pratomo, Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani.

Berdasarkan hasil laboratorium, tanah di Pantai Grigak tersebut cocok untuk tiga jenis tanaman, yaitu alpukat, kelengkeng, dan mangga. Tetapi komoditas ini baru bisa berhasil tumbuh jika tersedia cukup air. Untuk mengatasi masalah kekurangan air, beberapa universitas sempat melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa sumur tidak cocok dibangun di Pantai Grigak lantaran daerah itu tidak dekat dengan sumber mata air.

Akhirnya, Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani menginisiasi pembangunan embung geomembran untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan Pantai Grigak. Embung geomembran merupakan infrastruktur penangkap air hujan, agar kemudian dapat dimanfaatkan sepanjang tahun untuk sarana irigasi pertanian hortikultura.

Pembangunan embung yang kemudian dinamakan Embung Grigak ini berlangsung selama tiga bulan sejak Maret 2020. Triyono Prijosoesilo, Director of Public Affairs Communications and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia dan Wakil Ketua Pelaksana CCFI mengatakan, pembangunan Embung Grigak ini merupakan salah satu wujud visi global 2020 The Coca-Cola Company yang disebut Water Neutrality yang lahir pada tahun 2006-2007. Dalam visi Water Neutrality tersebut, The Coca Cola Company ingin mengembalikan air ke alam atau masyarakat sejumlah yang dipakai oleh perusahaan pada tahun 2020.

Di Indonesia, komitmen ini diwujudkan dalam dua garis besar kegiatan, yaitu big drop dan small drop. Big drop merupakan upaya konservasi air dalam bentuk pembangunan embung yang bisa menampung air hujan dan pembuatan sumur resapan yang dapat menangkap air hujan agar dapat meresap ke tanah. Sementara small drop merupakan kegiatan terkait konservasi air yang memberikan dampak langsung pada masyarakat seperti peningkatan air bersih, perbaikan kualitas air, dan sanitasi. “Alhamdulillah pada tahun 2014-2015 kami sudah mencapai 100% untuk Indonesia, bahkan di tahun 2019 angka kami mencapai 141%. Artinya kami mengembalikan air 41% lebih banyak daripada yang kami pakai di Indonesia,” papar Triyono.

Berdasarkan klasifikasi di atas, maka Embung Grigak yang terdapat di Pantai Grigak ini termasuk kegiatan big drop. Embung seluas 1 hektar ini bisa menampung sekitar 10.000 meter kubik air hujan. Air hujan yang tertampung di embung ini kemudian bisa digunakan untuk mengairi 20 hektar sawah yang diharapkan dapat bermanfaat bagi 150 petani di sekitarnya. Dengan demikian, pertanian berkelanjutan dapat tercipta di Gunung Kidul.

Pembangunan Embung Grigak ini dapat terwujud atas kerja sama CCFI dengan Yayasan Obor Tani, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berpengalaman di bidang pembangunan embung, masyarakat setempat, serta pemerintah daerah yang terdiri dari pemerintah desa, kelurahan, dan kecamatan.

Tak cuma menyediakan air, embung juga menghadirkan efek luas

Benny Suharsono, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Yogyakarta mengatakan, pemerintah menyambut baik dengan pembangun Embung Grigak. Pemerintah memandang keberadaan embung tidak berhenti sebagai infrastruktur penangkap air hujan, tapi juga bisa mendatangkan efek luas bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Masyarakat yang tadinya harus membeli air, kini tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk memperoleh air. Di samping itu, embung juga bisa dimanfaatkan untuk tujuan wisata. Sehingga, keberadaan embung ini berpotensi mendatangkan investasi lainnya yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. “Kami menangkap ini peluang yang luar biasa, sehingga kami dukung dengan program perpipaan,” kata Benny.

Agar dapat dimanfaatkan dengan baik untuk pertanian dan peternakan, maka pengelolaan Embung Grigak ini akan diatur bersama antara warga dan lembaga terkait, seperti Eco Camp Mangunkarsa. Para petani dan warga Gunung Kidul pun kini bisa tersenyum lebar sejak Embung Grigak selesai dibangun. Lahan yang tadinya kering, nantinya akan bisa dialiri air sehingga bisa ditanami sepanjang tahun.

“Setelah dibuat embung, saya akan menanam bawang merah, jagung, dan sayuran seperti kacang panjang, bawang merah, dan semua yang bisa ditanam di musim kemarau,” ujar Sarinem penuh harap. Dengan demikian, petani pun bisa menikmati lebih banyak panen dalam setahun, yang pada akhirnya akan membawa perbaikan ekonomi.