Pandemi Covid-19 yang terjadi di berbagai negara membuat berbagai kegiatan menjadi tertunda. Salah satunya adalah kegiatan perkantoran yang hingga saat ini dilakukan di rumah. Untuk kembali membangun semangat dan menyatukan para karyawannya di Asia Tenggara, Coca-Cola menghadirkan ASEAN's Got Talent.

Seperti Asia's Got Talent yang biasa kita lihat di TV, acara ini sendiri merupakan sebuah ajang adu bakat internal bagi karyawan Coca-Cola antar negara di wilayah Asia Tenggara. ASEAN’s Got Talent merupakan kegiatan yang pertama kali dilaksanakan pada tahun ini secara daring (online) dari rumah masing-masing karena pandemi. Bakat yang diadu dalam AGT sangat beragam. Ada yang menyanyi, memainkan instrumen musik, menari, drama, hingga sulap. Antusiasme karyawan Coca-Cola di kawasan ASEAN sangat tinggi, ditandai dengan jumlah tim yang diturunkan oleh tiap negara bisa lebih dari satu.

Indonesia sendiri pada AGT kali ini menurunkan 1 tim perwakilan dengan 8 orang anggota, yaitu Sylvia Tambunan, Kartika Nindya Putri, Yenni Bahtera Mustikawaty, Christofer Audrey Auruman, Andrew Hallatu, Emi Kusumaningrum, Hans Kusuma, dan Mohamad Rezki Yunus. Selain memiliki bakat, kedelapan orang ini juga memiliki tekad untuk menjawab tantangan ASEAN’s Got Talent edisi istimewa di tengah pandemi yang tentunya berbeda dari situasi biasa.

Bakat yang ditampilkan adalah menyanyi yang disuguhkan dalam bentuk video kompilasi. Membuat suatu karya bersama dalam nuansa karantina sungguh bukan hal yang mudah, karena harus tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan melakukan pembatasan fisik (physical distancing). Dalam hal ini teknologi menjadi tumpuan utama. Keseluruhan proses koordinasi dari pemilihan lagu hingga penyusunan konsep video dilakukan secara virtual meeting atau diskusi melalui WhatsApp.

Lagu yang dipilih adalah “We are All in This Together” yang menjadi original soundtrack dari film High School Musical. Pemilihan lagu ini selain karena bernuansa optimis dan ceria, juga diharapkan dapat menjadi media penyebar semangat positif kepada teman-teman yang menonton video ini. Di masa sulit seperti pandemi, semangat dan harapan adalah hal yang berharga untuk terus ditularkan. Tak disangka, video ini membuat Coca-Cola Indonesia Team lolos ke babak selanjutnya dan untuk itu kedelapan orang peserta membuat satu lagi video musik kompilasi sebagai karya pamungkas untuk beradu bakat di AGT tahun ini. Berbeda dari video yang pertama, dalam video final ini tim dari Indonesia memilih lagu “Wonderful World” dari Louis Armstrong. Sebuah lagu sarat makna yang mengajak kita untuk selalu bersyukur atas indahnya dunia, meskipun saat ini hanya bisa dinikmati dari rumah saja.

Meskipun sulit, Coca-Cola Indonesia Team bertekad kuat untuk menjawab tantangan AGT edisi pandemi ini. Dalam proses pembuatan video banyak hal seru yang terjadi. Misalnya salah seorang karyawan harus merekam video sambil berdiri di atas kursi hanya demi mendapatkan background tembok putih. Ada pula yang harus menumpuk kaleng dan buku sebagai pengganti handphone stand karena ketersediaan alat perekam yang terbatas di rumah. Belum lagi persoalan teknis dalam proses editing akhir video, karena materi rekaman memiliki volume kurang keras atau lirik yang dinyanyikan tidak sesuai dengan tempo lagu. Merekam ulang beberapa bagian juga menjadi hal yang seringkali dilakukan untuk mendapat materi yang lebih rapi. Video musiknya boleh jadi hanya berdurasi 2 menit, tetapi sangat membutuhkan kerja keras dari para anggota tim.

Kerja keras Coca-Cola Team Indonesia berbuah manis. Karya video musik kompilasi yang dibuat mengantarkan mereka menjadi 1st Runner Up di ASEAN’s Got Talent 2020. Bagi para anggota tim, penghargaan yang didapat adalah bonus, karena sesungguhnya cerita di balik pengerjaan video itu adalah hal yang lebih seru untuk diceritakan kembali kepada teman-teman dan kenangan yang indah di masa depan.