Sudah sejak bulan Mei, Ibu Sumiati (63), bukan nama sebenarnya, tidak bisa membayar cicilan pinjaman bank. Toko kelontongnya di Teluk Naga, Tangerang sepi pembeli sejak pandemi. Tidak hanya kesulitan membayar cicilan pinjaman, Ibu Sumiati dan keluarganya terkadang juga sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan sudah merumahkan karyawan penjaga toko dan memilih menjaga sendiri tokonya karena kesulitan membayar upah.

Di Indonesia, banyak sekali Ibu Sumiati lain yang mengalami hal yang sama. Terdapat hampir 4 juta warung tradisional dan toko kelontong yang berdiri di negeri ini, yang merupakan bagian dari 67 juta (per 2019) Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia. Ketika badai pandemi COVID-19 terjadi, sebanyak 236.980 UMKM terdampak (data Call Center Kementerian Koperasi dan UKM) secara langsung. Permasalahan utama yang dihadapi adalah penjualan atau permintaan menurun, permodalan dan distribusi terhambat, serta sulitnya bahan baku. Salah satu sektor yang mengalami dampak terparah adalah pedagang eceran yang berada di urutan kedua, yaitu sebesar 25,33 persen.

Pembatasan aktivitas masyarakat akibat pandemi telah membuat warung tradisional mengalami pengurangan omzet yang signifikan. Dorongan untuk lebih menjaga kebersihan membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih tempat berbelanja. Di masa pandemi, tingkat kebersihan adalah salah satu aspek yang sangat dipertimbangkan oleh konsumen.

Menurunnya konsumen warung tradisional akan berakibat pada berkurangnya omzet dan membuat mereka sulit bertahan. Dalam skala yang lebih masif, hal ini juga akan berdampak pada hilangnya sekian juta lapangan pekerjaan. Menurut data dari UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), UMKM menyerap 97 persen dari total tenaga kerja, dan tidak sedikit yang terhubung dengan warung tradisional. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari para pihak terkait untuk menyelamatkan warung tradisional dari badai pandemi.

Gerakan Toko BERSAMA: Konsorsium Sosial untuk Membantu Toko dan Warung Tradisional

Kerentanan warung tradisional akibat pandemi COVID-19 telah mendorong sejumlah pihak untuk bertindak secara nyata memberikan jalan keluar. Gerakan Toko BERSAMA (Bersih, Sehat, Maju) hadir sebagai salah satu solusi untuk memberdayakan toko dan warung tradisional yang terdampak pandemi.

Coca-Cola Indonesia, Coca-Cola Amatil Indonesia dan QASA berkolaborasi melalui Gerakan Toko BERSAMA untuk mendorong toko dan warung tradisional agar bisa bertahan dalam pandemi ini. Gerakan Toko BERSAMA (GTB) merupakan konsorsium sosial yang merupakan kolaborasi dari berbagai pihak dengan peranan masing-masing. Konsorsium sosial GTB melibatkan UKM Center FEB UI untuk memberikan konsultasi dan saran dalam pengembangan program serta memberikan materi edukasi untuk toko dan warung tradisional.

GTB juga meminta arahan dan dukungan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Republik Indonesia agar gerakan ini dapat berjalan beriringan dengan program pemberdayaan yang dimiliki pemerintah. Bagaimanapun, sebagai bagian dari UKM, toko dan warung tradisional telah menyumbang secara signifikan terhadap perekonomian negara.

Tujuan tahap awal dari konsorsium sosial GTB adalah untuk memberikan rasa aman serta nyaman bagi masyarakat untuk berbelanja di toko dan warung tradisional sekaligus membantu upaya pemerintah dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

Standar Kebersihan bagi Toko dan Warung Tradisional

Sebagai langkah awal, Gerakan Toko Bersama akan memberikan sosialisasi dan edukasi kepada pemilik toko mengenai standar operasional toko yang bersih, sehat dan aman dalam rangka persiapan kehidupan normal baru melalui distribusi e-book dan video yang bisa disebarkan secara gratis dan diakses di laman resmi gerakan, yaitu www.gerakantokobersama.com.

Tujuan dari sosialisasi dan edukasi adalah meningkatkan pemahaman pemilik toko dan warung tradisional untuk menjalankan protokol kebersihan dan kesehatan dalam menjalankan operasional toko. Materi edukasi kebersihan yang digunakan disusun berdasarkan referensi resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Seiring dengan meningkatnya pemahaman pemilik toko dan warung tradisional akan protokol kesehatan, diharapkan akan kembali membuat konsumen datang langsung berbelanja serta memberikan rasa aman bagi konsumen.

Selain edukasi kebersihan, konsorsium sosial GTB juga akan melakukan edukasi finansial dan manajemen untuk toko dan warung tradisional. Program tersebut meliputi tata kelola finansial, manajemen inventaris (inventory management), category management, promosi, dan lain sebagainya.

Di samping itu, konsorsium sosial GTB ke depan berharap bisa membantu untuk mempertemukan toko dan warung tradisional dengan fasilitas pendukung usaha (business enablers) seperti dompet elektronik (e-wallet), lembaga pendanaan mikro, pengembangan rantai pasok (supply chain) dan lain-lain.

Harapannya, warung dan toko tradisional yang mendapatkan edukasi dari konsorsium sosial GTB akan menjadi semakin efisien, maju, dan mampu memberikan layanan terbaik bagi konsumen. Semakin efisien dan maju sebuah bisnis tentu akan meningkatkan resiliensinya dalam menghadapi krisis.

"Kami memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Coca-Cola, UKM Center FEB UI, dan QASA atas inisiasi Gerakan Toko BERSAMA sebagai salah satu solusi untuk selain bisa bertahan di saat krisis juga meningkatkan penghasilan dan kapasitas usaha dari pemilik toko atau warung tradisional untuk bersiap memasuki kenormalan baru, yang diawali dengan menerapkan standar operating prosedur yang bersih, sehat dan aman," kata Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Teten Masduki, dalam sambutannya pada saat peluncuran konsorsium sosial Gerakan Toko BERSAMA pada Senin, 29 Juni 2020.

Selain itu, dalam acara peluncuran tersebut Menteri Teten juga mengatakan bahwa upaya GTB untuk melakukan pemberdayaan toko dan warung tradisional dengan melakukan edukasi finansial dan manajemen dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi dan digitalisasi UMKM di Indonesia, sebagai salah satu tulang punggung ekonomi rakyat.