- Tampung lebih dari 15 juta liter air hujan untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan -

-  Pertahankan komitmen ‘Water Neutral’ di Indonesia -

Wonogiri, 19 April 2018 - Menyambut momentum Hari Bumi yang jatuh di bulan April ini, Coca-Cola kembali perkuat komitmennya terkait konservasi air di Indonesia dengan merampungkan 2 proyek waduk penampung air hujan atau yang dikenal dengan Embung Air. Kedua Embung ini berlokasi wilayah Jawa Tengah, yakni di Kabupaten Karang Anyar dan Wonogiri. Hari ini, Coca-Cola mengadakan acara peresmian di lokasi pembangunan Embung di Desa Doho, Wonogiri bersama dengan warga dan perangkat desa.

Proyek embung di Wonogiri ini dinamakan Program Embung Doho, karena terletak di Desa Doho. Selain memiliki fungsi konservasi air, embung seluas 1,5 hektar ini dapat menampung lebih dari 15 juta liter air dan juga berfungsi sebagai sumber irigasi bagi setidaknya 40 hektar perkebunan masyarakat atau 10 hektar sawah pertanian.

Triyono Prijosoesilo, Wakil Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia, mengatakan: “Bagi Coca-Cola, konservasi air merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis kami. Dalam 1 dekade terakhir berbagai program Water Replenishment yang dilakukan oleh                 Coca-Cola di Indonesia setidaknya telah mengembalikan lebih dari 1 milyar liter air kembali ke alam dan masyarakat. Setelah membangun lebih dari 4000 sumur resapan untuk penyelamatan mata air di 6 wilayah, mulai tahun lalu kami mengembangkan program pembangunan Embung sebagai alternatif program konservasi air baru yang juga dapat diperluas untuk fungsi menjaga ketahan pangan pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan.”

Firdaus Ali selaku Staf Khusus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Bidang Sumber Daya Air mengungkap apresiasinya. “Kami menyambut baik inisiatif ini. Proyek ini turut mendukung program prioritas Kementrian PUPR dalam rangka mencapai ketahanan air dan kedaulatan pangan sesuai Nawa Cita Presiden Joko Widodo, melalui penyediaan sarana dan prasarana air. Embung juga merupakan bentuk dukungan terhadap upaya mitigasi perubahan iklim serta mendukung program strategis pemerintah terkait dengan peningkatan potensi ekonomi desa melalui pola pertanian yang berkelanjutan.”

Embung untuk pemberdayaan ekonomi desa

Embung merupakan insfrastruktur yang terbilang cukup sederhana yang memanfaatkan proses pemanenan air hujan. Dibuat menggunakan lapisan geomembran, embung  didesain untuk memanen air hujan dengan menggunakan tampungan air di area terbuka dan bekerja menggunakan prinsip irigasi gravitasi, tanpa memerlukan pompa listrik maupun pompa BBM. Kedalaman embung geomembran gravitasi ini biasanya ditentukan oleh curah hujan suatu tempat. Untuk daerah dengan curah hujan per tahun 3.000 mm/th biasanya dapat dibuat hingga kedalaman 3 meter. Pemilihan bahan Geomembran sendiri menjadi sangat penting, yakni dengan spesifikasi High Density Polyethelene (HDPE), anti UV, anti salinitas dan Feed Grade, sehingga tahan dari keretakan dan bisa didiami oleh ikan untuk mengurasi resiko perkembangbiakan jentik.

Program pembangunan kedua embung ini bernilai 2,3 milyar rupiah dan dalam pelaksanaannya Coca-Cola Foundation Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani yang bertindak sebagai mitra pelaksana lapangan. Proses pengerjaan dimulai dari persiapan lahan, penggalian, pengurukan dan pemadatan menggunakan alat berat untuk membentuk tanggul mengelilingi seluruh bak tampungan air. Setelah fisik embung terbentuk, dilanjutkan dengan pekerjaan pembuatan jaringan drainase dasar embung hingga penanaman pipa primer output irigasi embung. Pekerjaan dilanjutkan dengan pemasangan lapisan lembaran geomembran hingga menjadi bentuk dimensi utuh embung dengan cara dilas. Pekerjaan terakhir adalah pembangunan trotoar sekaligus sebagai pengunci lapisan geomembran.

Gatot Adjie Soetopo, Pengurus Yayasan Obor Tani menjelaskan: “Pembangunan Embung Banyu Kuwung dan Embung Wonogiri memakan waktu kurang lebih 3 bulan, menggunakan lapisan Geomembran dan diperkirakan mampu bertahan hingga 30 tahun. Kami percaya metode menabung air di musim hujan dan menggunakan air tersebut untuk irigasi di musim kemarau akan memberikan manfaat yang nyata bagi perkebunan buah, perikanan, peternakan, air baku PDAM, bahkan juga untuk potensi Agrowisata. Kami berharap kehadiran embung pada akhirnya dapat meningkatkan siklus panen sehingga potensi ekonomi desa juga pada akhirnya dapat diperkuat.”

Dalam program pembangunan embung ini, Coca-Cola dan Yayasan Obor Tani juga turut memberikan pelatihan perawatan embung dan pelatihan menanam tanaman yang hemat air seperti padi dengan sistem SRI dan menanam buah premium seperti Melon, Semangka, Kelengkeng dan Durian.

Di awal tahun ini, Coca-Cola juga merampungkan proyek Embung Banyu Kuwung di Karanganyar, Jawa Tengah. Serupa dengan Embung Doho, Embung Banyu Kuwung yang berlokasi di bawah Candi Sukuh, juga didesain sebagai waduk tadah hujan untuk mendukung irigasi. Embung Banyu Kuwung memiliki luasan sedikit lebih kecil, 600m2 dan mampu menampung air hingga 6.000m3 yang akan mendukung irigasi perkebunan seluas 7.5 hektar selama musim kemarau.

Secara global, The Coca-Cola Company memiliki Visi Global 2020 untuk terkait Water Neutrality, dimana perusahaan akan mengembalikan air kembali ke alam dan masyarakat sama dengan jumlah air yang terpakai didalam produk dan pada proses produksi. Coca-Cola Indonesia menjadi salah satu negara pertama di dunia yang melampaui visi Water Neutral ini, dimana sejak tahun 2015, Indonesia telah mencapai angka 164% dalam hal water replanisement.

Triyono menambahkan, “Coca-Cola berharap konsep embung yang kami jalankan ini bisa menjadi inspirasi dan diterapkan pihak lain untuk pembangunan embung di Indonesia.”

***

Catatan untuk editor:

  • Di Indonesia, sejak tahun 2006, investasi terhadap total program air oleh Coca-Cola Foundation Indonesia mencapai 2 Juta US Dollar, meliputi 12 water replanish program dari Sumatera Utara hingga Nusa Tenggara Timur, mengembalikan 1 milyar liter air kembali ke alam.
  • Tentang The Coca-Cola Company. The Coca-Cola Company (NYSE: KO) merupakan perusahaan minuman terbesar di dunia yang telah melayani konsumennya dengan lebih dari 500 merek minuman berkarbonasi dan non-karbonasi. Dipimpin oleh Coca-Cola, salah satu brand yang paling dihargai dan dikenal, portofolio perusahaan kami menampilkan merek-merek senilai 20 milyar dolar termasuk Diet Coke, Fanta, Sprite, Coca-Cola Zero, Vitaminwater, POWERADE, Minute Maid, Simply, Georgia, Dasani, FUZE TEA, dan Del Valle. Secara global, kami merupakan penyedia minuman berkarbonasi, kopi siap minum, dan minuman sari buah nomor satu. Melalui sistem distribusi minuman terbesar di dunia, konsumer di lebih dari 200 negara menikmati minuman kami dalam estimasi konsumsi 1,9 milyar kaleng/botol per harinya. Dengan komitmen yang kuat untuk membangun komunitas yang berkelanjutan, perusahaan kami fokus terhadap inisiatif untuk mengurangi limbah yang merusak lingkungan, mendukung gaya hidup aktif yang sehat, menciptakan lingkungan kerja yang aman dan bersahaja dengan para mitra kami, serta memperkuat pembangunan ekonomi bagi masyarakat di seputar daerah operasional kami. Bersama dengan mitra pengemasan kami, kami termasuk dalam sepuluh besar perusahaan swasta di dunia di dunia dengan lebih dari 700,000 sistem asosiasi. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan mengunjungi kanal Coca-Cola Journey di www.coca-colacompany.com, menjadi follower twitter @CocaColaCo di twitter.com/CocaColaCo, mengunjungi blog Coca-Cola Unbottled di www.coca-colablog.com atau temukan kami di LinkedIn di www.linkedin.com/company/the-coca-cola-company.
  • Tentang Coca-Cola Indonesia. Coca-Cola pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1927, dan diproduksi secara lokal untuk pertama kalinya di tahun 1932. Sejak tahun 1960-an, berbagai macam produk The Coca-Cola Company telah diperkenalkan pada pasar di Indonesia: Sprite di tahun 1961, Fanta di tahun 1973, Diet Coke di tahun 1986, Frestea di tahun 2002, Powerade Isotonik di tahun 2006, Coca-Cola Zero dan Minute Maid Pulpy di tahun 2008, Aquarius dan Minute Maid Nutriboost di tahun 2014, dan Minute Maid Pulpy Fruitbite di tahun 2014. Di tahun 2002, Coca-Cola pun mengakuisisi merek lokal air minum dalam kemasan, Ades. Kini, produk-produk Coca-Cola diproduksi di 10 pabrik kemas di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan mengunjungi www.coca-cola.co.id atau menjadi follower twitter @CocaCola_ID di twitter.com/CocaCola_ID.